“FILSAFAT ILMU”

Secara etimologis filsafat berasal dari kata Yunani, philosophia. Dalam bahasa Yunani kata philosophia merupakan kata majemuk yang terjadi dari philos (cinta, suka) dan sophia (kebijaksanaan). Dengan demikian secara sederhana filsafat dapat diartikan sebagai cinta atau suka akan kebijaksanaan. Bijaksana berarti pandai (tahu dengan mendalam ) atau “ingin tahu dengan lebih mendalam”. Jadi filsafat adalah pengetahuan dan penyelidikan dengan menggunakan akal budi (rasio) tentang sebab-sebab, asas-asas, hukum-hukum dan sebagainya,dari segala sesuatu yang ada di alam semesta tentang kebenaran dan arti dari keberadaan itu. Dengan kata lain, filsafat adalah usaha untuk mengerti dunia dalam makna dan nilai-nilainya.

Filsafat ilmu

Karakteristik berpikir filsafat adalah menyeluruh, mendasar dan spekulatif., sedangkan tugas utama filsafat menurut Wittgenstein, bukanlah menghasilkan sesusun pernyataan filsafati, melainkan menyatakan sebuah pernyataan sejelas mungkin, sehingga epistemologi dan bahasa merupakan gumulan utama para filsuf dalam tahap ini. Filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakekat ilmu ( pengetahuan ilmiah ). Ilmu merupakan pengetahuan yang diperoleh melalui metode ilmiah sedangkan pengetahuan itu sendiri adalah segala sesuatu yang diketahui manusia bersifat relatif. Meskipun secara metodologis ilmu tidak membedakan antara ilmu-ilmu alam dengan ilmu-ilmu sosial, namun karena permasalahan permasalahan teknis yang bersifat khas maka filsafat ilmu sering dibagi menjadi filsafat ilmu-ilmu alam dan filsafat ilmu-ilmu sosial. Berdasarkan hal tersebut maka terdapat beberapa pendapat mengenai filsafat ilmu, antara lain:


      Menurut Robert Ackermann, filsafat ilmu adalah tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmu dewasa ini yang dibanding dengan pendapat-pendapat terdahulu yang telah dibuktikan.Lewis White Beck berpendapat bahwa filsafat ilmu mempertanyakan dan menilai metode-metode pemikiran ilmiah, serta mencoba menetapkan nilai dan pentingnya usaha ilmiah sebagai suatu keseluruhan. Sedangkan Cornelius Benjamin berpendapat bahwa filsafat ilmu merupakan cabang pengetahuan filsafati yang menelaah secara sistematis mengenai sifat dasar ilmu, metode-metodenya, konsep-konsepnya dan pra anggapan-anggapannya, serta letaknya dalam kerangka umum dari cabang pengetahuan intelektual., dan May Brodbeck menyatakan filsafat ilmu itu sebagai analisis yang netral secara etis dan filsafati, pelukisan dan penjelasan mengenai landasan-landasan ilmu. Kunto Wibisono mengemukakan bahwa filsafat ilmu adalah cabang dari ilmu filsafat, jika ilmu filsafat merupakan kegiatan berrefleksi secara mendasar dan integral, maka filsafat ilmu adalah refleksi mendasar dan integral mengenai hakekat ilmu pengetahuan itu sendiri.

        Berdasarkan pendapat –pendapat mengenai filsafat ilmu di atas maka ruang lingkup filsafat ilmu itu meliputi : komparasi kritis sejarah perkembangan ilmu, sifat dasar ilmu pengetahuan, metode ilmiah, pra anggapan-pra anggapan, dan sikap etis dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Metode ilmiah merupakan ekspresi mengenai cara bekerja pikiran,dimana dengan cara ini pengetahuan yang dihasilkan diharapkan mempunyai karakteristik-karakteristik tertentu yang diminta oleh pengetahuan ilmiah, yaitu rasional dan teruji. Maka metode ilmiah mencoba menggabungkan cara berpikir deduktif dan cara berpikir induktif dalam membangun tubuh pengetahuannya. Berpikir deduktif dan induktif disatu padukan dalam penelitian,dan kedua-duanya saling menunjang. Berpikir deduktif adalah dimulai secara umum dan berakhir secara khusus, sedangkan berpikir induktif adalah dimulai secara khusus dan berakhir secara umum. Namun sebelumnya kedua metode tersebut mengalami pertentangan pada abad ke 17 dan 18, tokoh deduktif adalah Rene Descartes dan Immanuel Kant, sedangkan tokoh induktif adalah Francis Bacon dan David Hume.

a. Metode Deduktif

Aliran rasionalisme berpendapat bahwa sumber pengetahuan yang memadai dan dapat dipercaya adalah akal (rasio). Hanya pengetahuan yang diperoleh melalui akal saja yang memenuhi syarat yang dituntut oleh sifat umum dan harus mutlak , yaitu syarat yang dituntut oleh semua pengetahuan ilmiah. Sedangkan pengalaman hanya dapat dipakai untuk mengukuhkan kebenaran pengetahuan yang telah diperoleh melalui akal. Akal tidak memerlukan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan yang benar, karena akal dapat  menurunkan kebenaran itu dari dirinya sendiri, dengan menerapkan metode deduktif. Rene Descartes, memulai metodenya dengan meragukan segala pernyataan kecuali pada satu pernyataan saja, yaitu bahwa ia sedang melakukan keraguan itu sendiri. Pernyataannya terkenal dengan saya berpikir, jadi saya ada (cogito ergosum) yang dianggapnya sebagai prinsip pertama dari filsafat.

Descartes, bertanya ,siapakah “aku’ ini. Bila ini ditanyakan, penyangsian metodis masih berlangsung terus..Satu-satunya kebenaran yang diketahui pasti pada saat ini adalah “aku ada”, tentang adanya suatu dunia materil, aku adalah substansi yang hakekatnya ialah berpikir, dan pada kodratnya “aku” adalah kesadaran. Bagi Descartes, pernyataan tersebut adalah terang dan jelas, segala sesuatu yang bersifat terang dan jelas bagi akal pikiran manusia dapat dipakai sebagai dasar yang tidak perlu dibuktikan lagi kebenarannya untuk melakukan penjabaran terhadap pernyataan- pernyataan yang lain. Segenap ilmu pengetahuan harus didasarkan pada kepastian- kepastian yang tidak dapat diragukan lagi kebenarannya secara langsung dilihat dari akal pikiran manusia.Akal manusia memiliki pengertian-pengertian dan konsepsi-konsepsi yang tidak muncul dari indera, tetapi ia sudah ada (tetap) dalam lubuk fitrah. Jiwa menggali gagasangagasan tertentu dari dirinya sendiri. Bagi Immanuel Kant, semua bidang pengetahuan manusia adalah fitri, termasuk dua bentuk ruang dan waktu.

serta dua belas kategori.23 Metode semacam ini disebut “ a priori “, dengan metode ini kita seakan-akan sudah mengetahui segala gejala secara pasti, meski kita belum mempunyai pengalaman inderawi mengenai hal-hal yang kemudian tampak sebagai gejala-gejala itu.

b. Metode Induktif

Menurut pendapat aliran empirisme metode ilmu pengetahuan bukan a priori tapi a posteriori yaitu metode yang berdasarkan hal-hal yang ada atau terjadinya kemudian. Aliran ini yakin bahwa manusia tidak punya innate ideas ( ide-ide bawaan). Aliran ini dipelopori oleh Francis Bacon, kemudian Thomas Hobbes dan David Hume. Bacon dengan metode eksperimennya, manusia melalui pengalaman dapat mengetahui benda- benda dan hukum-hukum relasi antara benda-benda.

Thomas Hobbes, berbeda dengan pendahulunya John Locke, dia mengemukakan tentang asal mula gagasan manusia, kemudian menentukan faktafakta, menguji kepastian pengetahuan dan memeriksa batas-batas pengetahuan manusia. Empirisme ini kemudian dikembangkan oleh David Hume, yang menegaskan bahwa sumber satu-satunya untuk memperoleh ilmu pengetahuan adalah pengalaman. Menurutnya manusia tidak membawa pengetahuan bawaan ke dalam hidupnya. Melalui pengamatannya manusia memperolelh dua hal yaitu kesan-kesan (impression) dan pengertian-pengertian (ideas) . Impression adalah pengamatan langsung diterima dari pengalaman, baik lahiriah maupun batiniah.sedangkan ideas merupakan gambaran tentang pengamatan yang redup, kabur atau samar-samar yang diperoleh dengan merenungkan kembali atau merefleksikan dalam kesadaran kesan-kesan yang telah diterima melalui pengalaman langsung. I.R.Poedjawijatna menyatakan bahwa pengertian adalah hasil pengetahuan manusia mengenai aspek atau beberapa aspek realitas.

Pada hakekatnya pemikiran Hume bersifat analitis, kritis dan skeptis. Ia berpangkal pada keyakinan bahwa hanya kesan-kesanlah yang pasti, jelas dan tidak dapat diragukan. Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan di atas maka dapat diketahuibahwa ciri khas pemikiran rasional bersifat a priori yang terdiri dari proposisi
analitik, yaitu proposisi yang predikatnya sudah tercakup dalam subyek, sedangkan ciri khas pemikiran empiris adalah a posteriori , dengan proposisisintetik yaitu yang tidak dapat diuji kebenarannya dengan menganalisis pernyataan, tapi harus diuji kebenarannya secara empiris. Dalam mencari kebenaran ilmiah metode deduktif harus didampingi oleh metode induktif.

Advertisement