Cerita dibalik Kenikmatan Customer GO-JEK

Gojek memang sudah menjadi trend di Indonesia. Dengan berbagai fasilitas yang ditawarkan seperti GO-Ride, Go-Car, Go-Food, Go-Send dll yang semakin memanjakan customer (kita). Namun terkadang ada saja cerita baik itu senang dan sedih di balik sebuah pekerjaaan.

Cerita seorang driver Go-jek ini sempat heboh di karenakan sangat menyentuh hati. Oeh karena itu saya berniat untuk repost cerita tersebut dari akun facebook milik MartabakHawaii Sidoarjo agar para pelanggan gojek sadar sebelum complain.

cerita driver gojek online

Apabila tengah malam perut kita tiba-tiba lapar dan takut keluar mencari makanan atau karena tidak ada kendaraan. Kamu mungkin akan menggunakan layanan gojek satunya yaitu go-food. Kamu hanya perlu duduk santai sambil tiduran pencet tombol HP order GO-FOOD. Kemudian tidak sampai setengah jam makanan sudah datang kerumah. Tidak perlu keluar, tidak perlu antri, muter-muter habiskan bensin, tidak perlu kedinginan. Enak kan?

Tapi apa yang terjadi di balik itu? Apa yang dirasakan oleh si pengantar makanan saat memesan, hingga mengantarkan ke rumah kita?

Ternyata dibalik itu semua banyak cerita yang bikin hati nelangsa. Saat order sesuatu kamu tinggal pencet HP lalu yang kamu lakukan adalah menunggu dengan santai, tiduran, main game dll.
Saat itu Si-gojek meluncur ketempat yang anda minta, mereka order makanan yang tak ia makan. Rela berdesakan mengantri dengan pembeli lain dengan perasaan penuh was-was, Karena apabila kelamaan customer bisa tekan tombol ‘cancel’. Maka kalau seperti itu tamatlah sudah, sia-sialah semua perjuangannya.

Setelah orderan ready si-Gojek menalangi pesanan kamu dengan uang pribadinya, lalu berangkat dengan penuh tergesa-gesa, entah itu ada resiko apa di jalan, mencari alamat yang kadang harus kesasar tidak karuan. Belum lagi kadang ada pelanggan komplain, karena sudah tidak sabar menunggu orderannya.

Inilah di balik kenikmatan customer!

Berikut curhatan seorang gojek kepada owner martabakhawai yang memilukan.

“Saya sering order makanan mbak, tapi kasihan istri saya tidak pernah saya belikan makanan seperti ini. Sampai istri saya protes kok dikasih baunya aja toh pak? Tapi makanannya untuk orang.”

Bagaimana perasaan kamu apabila ditanya oleh istri seperti itu? Perih hati dengarnya kan?

Tidak cukup sampai disitu. Apabila kamu melakukan pembatalan terhadap pesanan, kamu mungkin tidak rugi apa-apa, palingan hanya rugi waktu menunggu. Tapi bagaimana dengan si gojek? Apakah dia tidak rugi apa-apa?

Inilah realitanya:

Ada seorang gojek yang bertanya kepada pemilik toko martabakhawaii tersebut saat itu hujan deras sederas-derasnya.
Pemilik toko : Kenapa pak?
Gojek : Maaf mbak, bolehkah saya mengembalikan orderan ini? Saya minta tolong soalnya tadi saya pakai uang pribadi dan customernya gak mau nerima”
Pemilik toko : Lho kenapa tidak mau menerima pak?
Gojek : Katanya kelamaan soalnya saya tadi berteduh dulu karena kehujanan, jadi customernya tidak mau terima.

Hati rasanya ingin menangis.

Padahal sudah di antrikan berdesakan, rela kehujanan, diantarkan juga. Tapi begitu sampai pesanan di cancel. Kebayang rasanya bagaimana?

Saat kamu order gojek akan menalanginya dengan uang pribadinya. Kemudian kamu menggantinya saat serah terima orderan.
Kalau customer tidak mau menerima siapa yang ganti uangnya?
Siapa yang bayar ongkos bensinnya?
Padahal mereka sudah mengantrikan, menalangi pembayaran, mengantarkan, keluar tenaga dan bensin, nekat kehujanan.

Meskipun ketika dilihat orderannya hanya seharga 24.000 saja. Bagi kita mungkin tidak seberapa tapi bagi mereka itu adalah MODAL. Modal untuk dapat nafkah! Bisa saja itu adalah uangnya satu-satunya. Apabila uang tersebut tidak kembali dia tidak akan punya uang untuk melayani pesanannya berikutnya.

Jadi apa kesimpulannya?

Driver gojek juga manusia (bukan mesin), mereka melayani kita untuk mencari nafkah anak istri. Maka wajarlah apabila dirinya kadang terlambat saat mengantarkan pesanan kamu. Jadi kita yang menunggu mohon lapang dada sejenak karena kita tidak tahu apa yang terjadi di jalan. mungkin saja disana ia mengantri, atau karena hal yang lain.

Tidak ada salahnya apabila kita bermurah hati terlebih lagi kalau mau berbagi karena mereka sudah berjuang mengantarkan makanan kita saat malam hari biarpun itu kehujanan.

Disqus comments