Tips Mengatur Waktu Sang Anak: Khusus Untuk Orang Tua yang Selalu memberikan Jadwal Ekstrim

Tulisan mengenai tips mengatur waktu dan jadwal kegiatan anak dirumah ini saya buat berdasarkan sudut pandang pengalaman saya sendiri selama 22 tahun menjadi anak. Saya tidak bermaksud untuk menggurui orang tua yang mungkin lebih berpengalaman. Tulisan ini lebih ke opini saya, harapan ketika saya menjadi orangtua nantinya. So, jika dirasa bermanfaat teruskan membaca namun jika tidak abaikan saja.

Intinya yang akan saya bahas adalah:
  1. Apakah baik melatih anak dengan jadwal padat/ekstrim sejak dini?
  2. Apakah benar dengan membatasi anak dalam masa perkembangan justru akan berefek negatif?
  3. Bagaimana tips mengatur waktu sang anak supaya meskipun jadwalnya padat tetap menyenangkan.

Saya terkesan dengan tulisan ibu weni di kompasiana. Beliau mengugkapkan beberapa kasus tentang anak-anak yang bermasalah. Dalam tulisannya beliau mengatakan “jangan bermain main dengan masa kecil anak anak yang di tangannya kita harapkan kehidupan bangsa yang lebih baik ” --lebih ekstrim lagi ada yang beranggapan “anak-anak adalah harapan orang tua di masa depan”. “problem child comes from problem parents” merupakan kebenaran yang bisa dibuktikan melalui kasus kasus yang terjadi di hampir semua sekolah.
tips mengatur waktu anak yang menyenangkan
Saya tertarik pada kata “problem child comes from problem parents”. Hal ini mengingatkan saya pada pepatah bahwa buah kelapa tidak jatuh jauh dari pohonnya. Artinya sifat anak 80% akan mengikuti orang tuanya baik itu bapak maupun ibu. Orang tuanya pemabuk maka anaknya pasti ada sifat demikian. Tapi ada juga seorang anak ustad tapi kelakuan preman? Itu hanya kecil presentasinya ibarat buah kelapa pasti lebih banyak yang jatuh dibawah pohonnya daripada yang bukan.

Apakah baik melatih anak dengan jadwal padat sejak dini?

Melatih anak untuk disiplin itu adalah hal yang wajib, namun jangan sampai terlalu berlebihan. Karena justru akan menghambat perkembangan psikologis dan mental sang anak. Seperti menjadi pemalu, gagap, dan pendiam. Tolong jangan sekali-kali mengacuhkan kebutuhan sang anak yaitu untuk bermain. Itu adalah cara mereka untuk membuat dirinya berkembang dan melatih jiwa sosialnya kepada orang lain.

Apakah benar dengan membatasi anak dalam masa perkembangan justru akan berefek negatif?

Jawabannya ya bisa saja. Selaku orang tua pasti menginginkan anaknya pintar, berbakti dan bisa diandalkan. Terkadang agar memenuhi harapan ini, orangtua sangat membatasi anak dalam segi apapun. Terlalu mengedepankan harapan tanpa peduli apa keinginan dari sang anak.

Pernah dulu mungkin saking terlalu khawatirnya atau apa, ibu saya selalu melarang untuk bermain hal yang berbau fisik. Sampai sampai ikut main bola untuk pertandingan 17an juga pernah dilarang. Padahal saya pengen sekali ikuti main. Alhasil saya tetap main tapi tanpa sepengetahuan ibu saya dan akhirnya lama kelamaan beliau mengerti juga bahwa itu adalah hobi yang saya inginkan.

Mengawasi adalah tugas dari orangtua kepada anaknya. Namun ada terkadang orang tua yang super duper displinnya sehingga apa-apa serba tidak boleh. Menurut saya hal itu justru akan berefek buruk. Seperti anak menjadi tidak percaya diri, lebih suka diam, dan tidak kreatif. Kalau bisa berikan waktu bebas setiap harinya dalam beberapa jam untuk bisa menyalurkan apa yang mereka sukai.

Bagaimana tips mengatur waktu sang anak sehingga meskipun jadwalnya padat tetap menyenangkan?


Mengenai tips mengatur waktu anak ini berlaku pada anak golden age yaitu umur 0-7 tahun. sekali lagi ini adalah pemahaman saya dan dari orangtua yang telah mengajarkan saya diwaktu kecil. Terkadang metode sama namun hasilnya tidak sama itu terkandung kondisi dari anak, keluarga dan lingkungan itu sendiri. Berikut tips mengatur waktu sang anak supaya menyenangkan, silahkan diambil manfaatnya kalau ada.

1. Mengendalikan keinginan anak yaitu dengan keteladanan bukan paksaan

Di usia anak-anak pasti kita suka dengan orang yang selalu mendukung apa yang kita lakukan kan? dan orang ini biasa adalah kakek kita. Orang yang selalu paham dengan apa yang kita inginkan. Sama juga halnya jika orang tua ingin mendidik sang anak atau mengendalikan apa saja yang boleh dilakukannya. Jika kita mendidiknya dengan paksaan 90% anak tidak akan menerimanya. Karena saya dulu paling tidak suka kalau dipaksa terutama dengan ancaman.

Memang saya patuh dan tidak melakukannya karena takut. Tapi jika tidak ada mereka saya akan mengulanginya lagi. Hal itu karena saya tidak memahami apa yang sebenarnya saya lakukan. Saya hanya paham kalau ada orang tua hal ini tidak boleh karena dimarahi, kalau tidak ada berarti boleh karena tidak ada lagi yang memarahi saya.

Hal itu juga ditegaskan oleh Rasulullah bahwa masa 0-7 tahun adalah masanya orangtua memberi contoh pada anak. Kadang anak sudah bisa meniru langsung, kadang juga belum.

2.Anak usia Golden Age bagus diajak dialog

Pasti kita pernah menemui anak-anak yang suka sekali bicara. Terutama anak kecil yang baru-baru lancar ngomong. Semua hal yang mereka temui akan ditanyakan. Hal itu karena rasa ingin tahunya yang sangat besar. Otaknya masih dalam perkembangan yang sangat bagus.

Namun jika orang tua malas menanggapi apa yang mereka inginkan. Maka sudah dipastikan sang anak akan kehilangan semangatnya untuk kreatif dan berhenti untuk peduli. Oleh karena itu anak di usia ini akan berkembang jika memiliki quality time yang bagus dengan orang tuanya.

3. Jangan pernah hilangkan kebutuhan anak untuk bermain tapi atur waktunya.

Kembalikan hak anak kepada situasi yang sesuai dengan kondisi psikis anak. Bermain bukanlah hal yang sia-sia. Karena itu adalah kebutuhan mereka yang masih anak-anak. Melalui bermain mereka juga akan belajar banyak hal dengan sendirinya seperti bersosialisasi dengan orang lain, dengan lingkungannya, teman-temannya dan masih banyak lagi kemampuan yang akan ia pelajari secara tidak langsung.

Namun mungkin kita orang tua juga ingin mereka menjadi disiplin. Misalnya jika waktu sudah sore mereka harus berhenti bermain dan mandi. Hal ini dapat diterapkan namun jangan sampai sekali kali menghilangkan kebutuhan mereka untuk bermain dengan temannya.

4. Pola penerapan reward and punishment

Terkadang ada orangtua yang ingin anaknya mendengar dan disiplin sehingga orangtua selalu memarahi anak yang masih dibawah 7 tahun. Bahkan tak jarang membentak-bentaknya dengan bahasa yang tidak seharusnya. Anak diusia ini tidak akan paham bahkan jika orangtua memarahinya secara berulang. Penerapan reward dan punishment justru lebih bagus daripada memarahinya. Anak juga akan lebih paham dengan apa yang orang tua inginkan. Jangan lupa, ajari anak dengan konsekuensi, bukan dengan hukuman atau marah-marah

Banyak orang tua yang bekerja dan tidak mempunyai banyak waktu untuk mengetahui tahap tumbuhkembang anak. Menganggap uang dan gengsi adalah segalanya. Jika sang anak menjadi tidak berguna kebanyakan mereka justru menyalahkan anak. Padahal hal itu karena pola tumbungkembangnya yang tidak kita perhatikan sebagai orangtua. Maka beruntunglah mereka yang dilahirkan dari desa dan selalu mendapatkan perhatian orang tuanya meskipun hidupnya pas-pasan.

jagalah anak anak kita, sebab anak adalah titipan, paling tidak, keseimbangan mentalnyaharus dijaga

Sekian semoga celotehan tips mengatur waktu sang anak ini ada manfaatnya.

Advertisement