Rekonstruksi Tentang “KATASTROPISME”

Tokoh utama Katastropisme adalah para ilmuwan Prancis pada awal abad ke-19 yaitu Georges Cuvier dan Leonce Elie de Beaumont (1832). Teori ini berbunyi bahwa bentuk bumi yang terdiri dari pegunungan dan lembah adalah hasil dari bencana besar dan malapetaka yang pernah terjadi sebelumnya.

Katastropisme

Katastrofisme adalah suatu gagasan bahwa Bumi pada masa lalunya telah dipengaruhi oleh berbagai kejadian bencana yang terjadi tiba-tiba, dengan cepat, dan memengaruhi seluruh bumi.

Teori yang dikenal dengan teori malapetaka ini menjelaskan bentukan bumi yang sekarang ini seperti pegunungan dan lembah merupakan hasil dari malapetaka-malapetaka yang pernah terjadi sebelumnya.
Anthony Hallam, penulis beberapa buku geologi terkenal menyebutkan ada empat geokontroversi terbesar :

> neptunists vs. plutonists,
> Catasthrophists vs. Uniformists
> young Earth vs. old Earth
> fixists vs mobilists.

Paradigma yang dominan pada bidang geologi pada saat ini adalah uniformitarianisme yaitu gagasan bahwa perubahan perlahan memengaruhi penampilan bumi saat ini. Pandangan ini berkeyakinan bahwa masa kini merupakan kunci dari masa lalu dan segala sesuatunya berlanjut sebagaimana ia bermula pada awalnya.

DEASTROPISME

Diastropisme adalah tenaga yang bekerja dari dalam bumi yang mengakibatkan pergeseran dan perubahan posisi lapisan batuan sehingga mengubah bentuk muka bumi.

1. Diastropisme merupakan semua peristiwa yang berhubungan dengan kekuatan gaya tarik menarik pada bagian kulit muka bumi sehingga menghasilkan bentuk patahan dan lipatan.

2. Patahan akan terjadi bila struktur batuan mendapatkan tekanan yang sangat besar yang melewati batas titik patah batuan, sedangkan

3. Lipatan akan terjadi jika  tekanan horizontal saling bertemu pada suatu titik batuan yang elastis.

Gerak Diastropisme terbagi menjadi dua bagian yaitu :

1. Epirogenesis adalah pengangkatan jalur kerak bumi sehingga membentuk pegunungan yang berlangsung sangat lambat dan meliputi daerah yang sangat luas.
2. Orogenesis adalah proses pembentukan pegunungan (mountain building) atau pengangkatan kerak bumi karena tumbukan lempeng. Proses tersebut menghasilkan pegunungan berangkai yang bersamaan dengan itu terbentuk patahan dan lipatan.

Dampak Gerak Diastropisme terbagi menjadi dua bagian yaitu :

1. Gerak Epirogenetik Dampak Hasil Tektonisme adalah gerakan pada lapisan kulit bumi yang dampaknya menyebabkan pengangkatan dan penurunan permukaan bumi yang berlangsung sangat lambat, serta gerakkannya meliputi wilayah yang sangat luas. Gerakan epirogenetik disebut juga tenaga pembentuk benua. Gerak epirogenetik pada umumnya tidak menimbulkan lipatan atau retakan pada kulit bumi, namun gerakan ini dapat menggeser sebuah benua.

2. Gerak Orogenetik Dampak Hasil Tektonisme adalah gerakkan pada lapisan kulit bumi yang menyebabkan pengangkatan dan penurunan permukaan bumi yang berlangsung relatif cepat. Gerak orogenetik dapat menyebabkan terjadinya beberapa struktur geologi,  antara lain:

1. Struktur Pelengkungan (Warping)

Lapisan batuan yang baru terbentuk cenderung mendatar. Lapisan yang semula mendatar bila mendapat tekanan vertikal tidak merata dan akan membentuk struktur batuan yang melengkung. Pelengkungan dapat mengarah ke atas yang disebut kubah (dome) dan dapat mengarah ke bawah yang disebut cekungan ( basin ).

2. Struktur Lipatan (Folding)
Struktur lipatan terbentuk apabila lapisan itu mengalami tekanan lemah. Akibat tekanan tersebut lapisan yang semula mendatar akan terlipat-lipat.
Bagian puncak lipatan disebut antiklinal dan lembah lipatan disebut sinklinal.
Bentuk lipatan dapat dibedakan menjadi  lima macam, yaitu sebagai berikut :

  • Lipatan tegak
  • Lipatan miring
  • Lipatan menggantung
  • Lipatan rebah
  • Lipatan isoklinal

katastropime Bentuk-bentuk lipatan

3. Struktur Patahan

Terbentuk apabila tekanan cukup kuat sehingga tidak dapat dinetralisasi oleh sifat plastis batuan.
Berdasarkan arah gerakan batuan di sepanjang bidang patahan dikenal lima tipe-tipe patahan, yaitu sebagai berikut:

  • Normal Fault
  • Reversa Fault
  • Strike-slip Fault
  • Obligue-Slip Fault
  • Rotational Fault

Bentuk-bentuk fault/patahan

4. Struktur Retakan

Struktur Retakan terbentuk karena gaya regangan yang menyebabkan batuan mejadi retak-retak. Blok batuan masih tetap di tempatnya dan tidak mengalami pergeseran tempat.

Vulkanisme merupakan bagian dari tenaga tektonik selain dari diastropisme, pada pengertian vulkanisme menurut devinisi adalah proses keluarnya magma dari dalam bumi menuju ke permukaan bumi
Penyusupan magma ke dalam litosfer dapat di bedakan menjadi dua yaitu :

1. Intrusi Magma adalah peristiwa menyusupnya magma di antara lapisan batuan, tetapi tidak mencapai permukaan Bumi.

Intrusi magma dapat dibedakan atas sebagai berikut.

  • Batolit.
  • Lakolit
  • Keping intrusi atau sill
  • Intrusi korok atau gang
  • Apolisa.
  • Diatrema/dike

katastropime intrusi magma

2. Ekstrusi Magma adalah peristiwa penyusupan magma hingga keluar ke permukaan Bumi dan membentuk gunung api. Hal ini terjadi apabila tekanan gas cukup kuat dan ada retakan pada kulit Bumi sehingga menghasilkan letusan yang sangat dahsyat. Ekstrusi magma inilah yang menyebabkan terjadinya gunung api. Ekstrusi magma tidak hanya terjadi di daratan tetapi juga bisa terjadi di lautan. Oleh karena itu gunung berapi bisa terjadi di dasar lautan.

Ekstrusi magma berdasarkan materi yang dikeluarkan :

  1. erupsi eksplosif, yakni keluarnya magma dengan cara terlempar dengan materi relatif padat.
  2. erupsi effusif, yakni magma keluar dengan cara meleleh dan bentuk materi cair.
  3. erupsi campuran, yakni keluarnya materi padat dan materi cair secara bergantian.

Berdasarkan tempat keluarnya magma ke permukaan bumi

  1. Ekstrusi linier terjadi jika magma keluar lewat celah-celah retakan atau patahan memanjang sehingga membentuk deretan gunung berapi. Misalnya Gunung Api Laki di Eslandia, dan deretan gunung api di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
  2. Ekstrusi Real terjadi apabila letak magma dekat dengan permukaan bumi, sehingga magma keluar meleleh di beberapa tempat pada suatu areal tertentu. Misalnya Yellow Stone National Park di Amerika Serikat yang luasnya mencapai 10.000 km2.
  3. Ekstrusi Sentral terjadi magma keluar melalui sebuah lubang (saluran magma) dan membentuk gunung-gunung yang terpisah. Misalnya Gunung Krakatau, Gunung Vesucius, dan lain-lain.

Orang Geofisika yang sangat tertarik dengan teknologi, mapping, dan blogger. Mempunyai niat pengen selalu berbagi dengan tulisan tapi gak jadi-jadi. Oleh karena itu, saya berusaha semaksimal mungkin untuk menyajikan artikel-artikel yang bermanfaat dan berkualitas tinggi.

Tinggalkan komentar