4+ TOP Emulator Android untuk Linux (LANCAR no RIBET)

Pengen nyoba aplikasi umum ataupun game android di OS Linux?

Berikut ini ada beberapa emulator android untuk Linux dengan PERFORMA CIAMIK.

Dengan emulator-emulator ini, kamu bisa:

  • Main game dan aplikasi android terbaru cukup di Linux tanpa perlu ganti hp.
  • Bagi developer, emulator bisa ngebantu dalam pengetesan kompatibilitas aplikasi yang lagi dikembangkan.

Nah, nanti kamu tinggal pilih, emulator mana yang paling cocok untukmu.

Silakan simak info lengkapnya di bawah ini, santai saja bacanya jangan terburu-buru ya.

Emulator Android untuk Linux dengan Performa Terbaik

1. Genymotion

Genymotion telah banyak dikenal sebagai emulator android yang handal. Fiturnya banyak, dengan kompatibilitas yang fleksibel.

Berbagai versi android ada di emulator ini.

Kelebihan Genymotion untuk pengguna Linux:

  • Performanya bagus. Aplikasi android yang kamu install di Genymotion bisa jalan dengan lancar di OS Linux.
  • Fitur komplet. Kelengkapan semacam GPS dan akselerometer dll tersedia.
  • Support untuk banyak versi android.
  • Terintegrasi baik dengan Android Studio.
  • Ada pluginnya juga untuk melengkapi fungsi Genymotion.
  • Tested: PUBG Mobile, Mobile Legends, WhatsApp, Instagram, Facebook Messenger.

Kekurangan Genymotion untuk pengguna Linux:

  • Ada versi berbayarnya. Bedanya dengan yang gratis apa? Fitur di Genymotion versi gratis lebih terbatas, fitur yang pro cuma ada di versi yang berbayar.
  • Perlu kesabaran, pengetahuan dan pengalaman untuk melakukan settingnya. Ya, pengaturannya cukup rumit yang kalau belum terbiasa.
  • Perlu RAM dan space ssd yang cukup besar. Ketika dijalankan, Genymotion memang membutuhkan resource yang tinggi.

2. Anbox

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, Genymotion mempunyai pengaturan yang cukup kompleks.

Nah, beda dengan Anbox:

  • Program ini lebih mudah digunakan.
  • Lebih ringan dibanding emulator pada biasanya.
anbox emulator android untuk linux

Kenapa? Karena sistem pendekatannya beda. Anbox menggunakan kontainerisasi, sementara emulator lainnya memakai pendekatan emulasi lengkap.

Namun, karena pendekatan itu pula, konfigurasi yang bisa kamu lakukan juga terbatas. Penjelasannya kami tuliskan di akhir artikel ya.

Selain dari itu, integrasi Anbox dapat berjalan dengan baik di Linux. Itulah sebabnya, menjalankan aplikasi android di Anbox jadi serasa pakai aplikasi Linux pada umumnya. Untuk aplikasi androidnya, tinggal kamu cari di aplikasi Google Play Store yang sudah terinstal di Anbox.

Kelebihan Anbox untuk pengguna Linux:

  • Selalu cocok dengan versi Linux manapun karena memang dirancang buat OS Linux.
  • Meski tak lengkap, konfigurasi mudah dipahami.
  • Performa lancar. Dengan pendekatan kontainerisasi, kinerja Anbox dinilai lebih baik dibanding emulator biasa yang menyediakan lingkungan virtual.
  • Tested: Instagram, WhatsApp, Spotify, Facebook Messenger, Google Chrome.

Kekurangan Anbox untuk pengguna Linux:

  • Kompatibilitas terhadap aplikasi masih kurang. Artinya, tak setiap aplikasi bisa kamu mainkan dengan Anbox.
  • Perlu driver hardware, yang utamanya tak kompatibel dengan Linux.
  • Konfigurasi tak selengkap emulator umumnya.

Anbox masih terus dikembangkan hingga tahun kemarin ya. Namun tahun 2023 ini pengembangannya telah berhenti sebagaimana yang tertulis di sini, sekaligus alternatif yang disarankan oleh developernya.

Next…

3. ARChon Runtime

Apakah di komputermu telah terinstal browser Google Chrome?

Jika sudah, maka ARChon Runtime ini bisa kamu coba. Ya, cukup dengan browser kamu bisa coba menjalankan aplikasi android di OS Linux.

Caranya sedikit berbeda dengan emulator tradisional, begini:

  • Download dulu ARChon-nya. Hati-hati, downloadlah file-nya dari tempat yang terpercaya ya.
  • Extrak hasil download yang biasanya berbentuk ZIP. Letakkan di folder manapun yang aman, jangan di folder download karena rawan terhapus ketika anda membersihkan file yang tak terpakai.
  • KONVERSI apk android. Nah ini dia, kamu mesti convert dulu file apk agar kompatibel dengan ARChon Runtime. Dilangkah ini, file apk akan diubah jadi ZIP lagi. Semua yang kamu butuhkan akan ada di halaman ini https://archon-runtime.github.io/.
  • Simpan di folder tertentu file hasil konversinya. Nanti kamu akan menambahkan letak file ini saat mengkonfigurasi ARChon.

Kelebihan ARChon Runtime untuk pengguna Linux:

  • Karena menggunakan Chrome, kompatibilitasnya luas bisa jalan di Windows ataupun Linux.
  • Efisien dalam hal sumber daya. ARChon Runtime bisa running tanpa mengganggu performa sistem Linux.
  • Meski terlihat ribet mesti mengkonversi APK-nya dulu, penggunaan runtime ini sebenarnya mudah-mudah saja ketika terbiasa.
  • Lebih hemat space karena tak perlu install dulu emulator yang biasanya memakan cukup banyak tempat di ssd atau hdd.
  • Tested: Telegram, WhatsApp, FB Messenger, VLC Media Player, IG.

Kekurangan ARChon Runtime untuk pengguna Linux:

  • Aplikasi yang cocok terbatas. Yup, tak semua bisa kamu convert lalu jalankan dengan ARChon.
  • Bisa terasa ribet dengan semua proses convert dan konfigurasi jika user belum terbiasa.

4. AndroVM

Selain Anbox, AndroVM ialah emulator android lainnya untuk Linux.

Kalau kamu lihat, pada brand emulator ini terdapat huruf VM kan?

Ya, besar kemungkinan itu untuk Virtual Machine. Konstruksi AndroVM memakai teknologi virtualisasi. Maksudnya, dengan AndroVM ini, kamu akan menyediakan OS android virtual untuk apk yang ingin kamu jalankan.

androvm-emulator-android-untuk-linux

Untuk pemasangan aplikasi android-nya tinggal install saja dari Google Play Store seperti biasanya.

Karena pada awalnya lebih diperuntukkan untuk developer, pengaturan dan konfigurasi pada AndroVM tersedia cukup lengkap ya.

Kelebihan AndroVM untuk pengguna Linux:

  • Sistem virtual yang disediakan oleh AndroVM mempunyai performa stabil.
  • Efisien dalam pemakaian sumber daya, tak membebani sistem Linux secara berlebihan.
  • Tested: WhatsApp, Candy Crush Saga, Instagram, Subway Surfers, FB Messenger.

Kekurangan AndroVM untuk pengguna Linux:

  • Developer sudah menghentikan pengembangan AndroVM. Jadi kapabilitas fitur baru serta keamanannya telah mentoki sebagaimana yang terlihat di versi terakhirnya. Kalau tak salah AndroVM versi 4.2.2 ialah yang terakhir.
  • Karena sudah di-stop, maka kecocokannya dengan versi android dan aplikasi terbaru pun bisa jadi makin terbatas.

Alternatif Emulator Android untuk Linux

Kalau saja kamu tak cocok dengan semua list emulator di atas, alternatif emulator android untuk Linux ini.

Yaitu, gunakan sistem operasi yang berbasis android. Contohnya Bliss OS.

Lah, itumah bukan buat Linux dong? Linux-nya di-install ulang itumah?

Tenang-tenang…

Mohon bersabar, ini ujian…hehe

Bukan itu maksudnya…

BUKAN dengan menginstal ulang Linuxmu.

Bliss OS alternatif emulator android untuk Linux

Untuk Bliss OS, dia memang bukan emulator untuk Linux. Tapi, sistem operasi dengan basis android. Tujuannya sama dengan emulator android, yakni memberi pengalaman android via komputer.

Artinya: Kamu dapat install Bliss OS di hard drive atau running saja via BOOTABLE USB.

Nah, opsi kedua inilah yang bisa kamu jajal sebagai pengguna setia Linux.

Ya kan? Gak perlu install ulang, cukup simpan Bliss OS di usb lalu plug in ke komputer.

Selesai, tinggal coba game atau aplikasi android yang kamu suka.

Paham kan? Step by step-nya bisa kamu temukan di website ini.

Pendekatan Kontainerisasi dan Emulasi Lengkap Pada Emulator Android

Ini adalah dua macam cara buat me-running sistem maupun aplikasi pada lingkungan terisolasi.

Kontainerisasi dan emulasi lengkap, membuat kamu dapat merasakan pengalaman menggunakan android via PC.

Kontainerisasi

Sebagaimana yang telah kami tuliskan, pendekatan inilah yang digunakan oleh Anbox.

Konsep ini disesuaikan dengan namanya, yakni kontainer. Yang mana artinya adalah wadah tempat kita menyimpan barang.

Nah, dalam hal ini, aplikasi android-lah yang kamu simpan di dalam wadah tersebut. Hanya di kontainer inilah aplikasi ini dapat hidup.

Namun, kontainer ini tak dapat berdiri sendiri. Dia berbagi kernel OS Windows atau Linux yang kamu pakai di komputer.

Dengan cara inilah performa kontainer menjadi lebih ringan dan efisien. Kenapa? Sebab tak perlu melakukan emulasi OS yang disimulasikan secara menyeluruh.

Jika kamu cek arti kata emulasi pada KBBI, itu diartikan sebagai usaha keras untuk menyamai.

Terbayang kan, kenapa pendekatan kontainer dibilang lebih efisien?

Good…

Cara ini mampu membuat aplikasi running dengan performansi maksimal karena mendapat direct akses ke resource yang dibutuhkannya.

Tapi, minusnya memang selalu ada ya.

Kekurangan cara ini ialah dalam hal kecocokan hardware serta aplikasi yang bisa klop untuk dijalankan dalam kontainer.

Emulasi Lengkap

Di cara ini terjadi hal yang sebaliknya.

Emulasi lengkap bakal membuat lingkungan virtual yang mengemulasi sistem operasi yang disimulasikan secara menyeluruh.

Emulator tradisional umumnya menggunakan cara ini. Versi OS Android dan konfigurasi yang kamu pilih, bakal disimulasikan secara total termasuk untuk software, hardware, dan kernel-nya.

Tak heran bila sumber daya yang terserap dari komputermu juga bakal besar. Selain itu, kinerja aplikasi ketika dijalankan juga takkan semaksimal metoda kontainer. Kenapa? Karena mengemulasi seluruh sistem itu pastinya tak mudah ya.

Jadi, bila ingin kinerja aplikasi android optimal dengan efisiensi sumber daya komputer, pilih emulator dengan metoda kontainerisasi. Tapinya ada di kompatibilitasnya yang kurang.

Lalu…

Pilih emulator dengan emulasi lengkap, kalau mau clone sistem operasi android seutuhnya. Dengan demikian, performa aplikasi bagus tapi ngambil resource yang besar.

Mana yang kamu butuhkan? Karena semuanya dikembalikan pada kebutuhanmu tersebut.

  • Mohon dicatat, kecocokan aplikasi dengan emulator, dipengaruhi oleh versi aplikasinya, OS android yang disimulasikan, emulator, serta ketepatan konfigurasi terhadap sumber daya komputermu. Kurang lebih, catatan inilah yang bisa menjawab, kenapa lebih baik memakai emulator yang aktif diperbarui oleh developernya.
  • Pada bullet point setiap emulator, kami memberikan beberapa aplikasi yang sudah teruji di emulator tersebut. Ingat, itu cuma beberapa saja dan masih banyak lagi aplikasi yang dapat kamu coba dengan masing-masing emulator.
  • Bila resource komputermu terbatas, sehingga memilih emulator yang telah dihentikan pengembangannya, kamu tetap bisa mencari jejak informasinya di internet. Biasanya, di forum-forum selalu banyak yang berbagi solusi terkait masalah pada emulator manapun. Jadi tenang saja, bila ada masalah atau error, kamu tinggal searching error tersebut di mesin pencari, dan harus mau membaca.

Baiklah, rasanya sudah cukup lumayan panjang, uraian mengenai emulator android untuk Linux di halaman ini.

Berdasarkan pemahaman kami, Emulator Genymotion ialah opsi paling baik, ketika kamu memerlukan emulator android dengan fitur komplet dan kinerja yang lancar di OS Linux. Dengan kekayaan fitur yang tersedia di Genymotion, emulator ini bisa diandalkan dalam menjalankan aplikasi dan game android di Linux.

Kemudian…

Karena ARChon Runtime masih lebih terupdate dibanding opsi lain diluar Genymotion, maka runtime ini akan jadi pilihan yang menarik. Gampang dipakainya, ringan dijalankannya.

Cukup pakai browser Chrome saja.

Walau aplikasi android yang bisa di-running oleh ARChon Runtime terbatas, sumber daya komputer Linux-mu bakal lebih efektif dengan menggunakan runtime ini.

So, tinggal kamu putuskan berdasarkan preferensimu.

Komputermu punya cukup resource? Pakai saja Genymotion. Kalau komputermu kurang resource-nya? Coba deh pakai ARChon saja.

Setiap emulator android punya plus dan minusnya masing-masing. Yang terbaik ialah pilih sesuai kebutuhan dan tidak memaksakan.

Btw, semoga artikel ini bisa bermanfaat ya. Mungkin kami harus pecah lagi bahasan di topik ini, terutama dalam hal seperti tutorial install dan semacamnya.

Bila kamu punya pendapat tersendiri, silakan ungkapkan pada kolom komentar ya.

Slow writer dengan info akurat bagai passing Kuroko Tetsuya. Meski lambat tapi tetep suka dengan tulis menulis. Kalau lagi dapat wangsit biasanya bisa lebih cepet dikit nulisnya ^^

Tinggalkan komentar