Jadi Orang Generalis vs Spesialis, Lebih Baik Mana ?

Diskusi tentang generalis vs spesialis akhir-akhir ini kembali ramai diperbincangkan. Bukan hal baru memang mendiskusikan mana yang lebih baik menjadi orang yang generalis atau spesialis, karena di tahun 2008 silam pun, topik ini juga pernah ramai diperbincangkan setelah Malcolm Gladwell meluncurkan bukunya yang berjudul ‘Outliers : The Story of Success’. Klaim penulis yang menyatakan bahwa untuk menjadi suatu ahli atau spesialis dalam bidang tertentu membutuhkan waktu sekitar 10.000 jam dengan pendekatan latihan yang benar pun menjadi hangat diperdebatkan.

Di era digital seperti sekarang tentu membuat para milenial menjadi khawatir dan bimbang untuk menentukan, manakah yang lebih dibutuhkan saat ini menjadi seorang yang generalis atau spesialis ?. Disatu sisi, keadaan memaksa masyarakat untuk bisa melakukan hal dengan serba cepat dan dinamis. Hal ini menjadi keuntungan bagi para generalis, karena generalis cenderung mudah beradaptasi dan berpikiran luas. Namun disisi lain, kita juga tidak mungkin menjadi orang yang tidak punya keahlian apa-apa. Kita tidak dapat dipertimbangkan untuk menduduki jabatan tinggi jika tidak punya kemampuan yang dalam terhadap suatu bidang. Bisa-bisa kita akan stagnan ditempat karena kemampuannya begitu-begitu saja alias dangkal.

Jadi, pilih mana dong? Generalis atau Spesialis?

Pertama, berhenti membandingkan, apalagi mencari jawaban mana yang lebih baik antara keduanya. Generalis dan Spesialis sejak dulu punya dikotomi yang jelas dan sudah saatnya dikotomi peran tersebut dihapus. Kedua, mari mencoba melihat dengan lebih luas. Karena kita sebenarnya punya pilihan lain, teman. Kita punya pilihan menjadi generalis-spesialis, atau dalam psikologi pop juga dikenal sebagai T-Shaped.

Generalis-spesialis
Source : “Why T-shaped people?” by Jason Yip

Jika kita mengenal generalis sebagai seseorang yang berpengetahuan luas namun tidak mendalami suatu topik tertentu (-Shaped), dan Spesialis yang memiliki pemahaman yang mendalam terhadap suatu hal (I-shaped), maka T-Shaped menggabungkan keduanya. Seseorang yang mempunyai keahlian dalam bidang tertentu (setidaknya satu keahlian) namun juga memiliki pengetahuan yang cukup di bidang lainnya. T-Shaped mempunyai banyak area skill yang ditunjukkan dengan bagian horizontal dari huruf T, dan menjadi ahli dalam satu atau beberapa bidang yang digambarkan pada bagian vertikal huruf T.

Sebagai contoh, orang yang sangat mumpuni dalam dunia pemrograman, menjadi senior web end developer disalah satu start up terkemuka, lalu orang tersebut diajak ngobrol sama temannya tentang resesi ekonomi Singapura misalnya, ia bisa menjadi kawan bicara yang sangat nyambung.

Menjadi orang T-Shaped artinya menjadi seseorang yang tidak berhenti belajar. Ia tidak hanya fokus di satu bidang ilmu dan menjadi spesialis didalamnya, tapi juga berusaha memperdalam bidang-bidang ilmu lain sesuai dengan tantangan zaman.


Dalam suatu industri, merekrut orang T-Shaped memberikan banyak keuntungan. Jason Yip, Senior Agile Coach at Spotify merunutkan dengan sangat baik akan hal ini.

Pertama, perusahaan dapat mengerjakan banyak hal dengan lebih sedikit orang. Jika seseorang hanya tahu satu skill, maka jika perusahaan ingin mengembangkan suatu produk yang membutuhkan n skill, tentu akan dibutuhkan n orang. Namun jika seseorang paham beberapa skill, otomatis orang yang dibutuhkan untuk mengerjakan pekerjaan tersebut menjadi <n orang.

Kedua, T-shaped adalah orang yang mampu berkolaborasi dan cepat menyesuaikan diri. Dengan kemampuan yang dimiliki, T-Shaped dapat bekerja sama dalam banyak pekerjaan karena sifat open minded-nya. 

Ketiga, T-shaped dapat berkomunikasi dengan lebih efektif. Karena memiliki pemahaman dasar yang cukup dalam banyak aspek, T-shaped dapat lebih cepat memahami penjelasan orang lain meskipun bukan di bidang keahliannya. Hal ini memudahkan orang-orang untuk berkomunikasi dengannya. Komunikasi lancar, pekerjaan lancar.

Tapi memangnya ada orang yang demikian ? Ahli dalam satu bidang, tapi juga punya pengetahuan dibidang lain. Jawabannya, banyak dong, teman.

Bill Gates
Source : Pinterest

Apa yang kita tahu tentang Bill Gates adalah CEO Microsoft sebelum akhirnya mengundurkan diri tahun 2000, artinya ia ahli dalam bidang teknologi. Tapi disisi lain, ia juga seorang pebisnis ulung dan menyukai filantropi.

Apa yang kita tahu tahu tentang Leonardo Da Vinci adalah seniman yang sangat handal, lah wong Monalisa dilukis sama beliau. Tapi diwaktu yang bersamaan, ia juga mempelajari dunia penerbangan dan matematika.

Lebih jauh lagi, Ibnu Sina yang kita kenal sebagai Bapak kedokteran, ternyata beliau juga mendalami filsafat dan astronomi di satu waktu. Nama nama diatas sudah cukup membuktikan ada banyak orang yang dapat menjadi generalis-spesialis.


Pertanyaannya sekarang, Bagaimana menjadi T-Shaped person ?

Caleb Meredith, seorang Product Engineers Airtable menuliskan bahwa terdapat beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menjadi T-Shaped person, yakni :

1. Expertise your expert

Apapun area keahlianmu, get better at it. Bukankah Steve Jobs seringkali mengingatkan, stay hungry stay foolish ? Aplikasikan hal tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari. Jangan karena sudah merasa mumpuni dan punya karir yang bagus, terus berpikir ah ngapain belajar lagi.

2. Go wide

Selain tetap belajar tentang bidang keahlianmu, kamu juga harus up to date tentang bidang keahlian orang orang dalam timmu. Caranya ? Ya belajar lagi. Kalau ada waktu senggang, tidak ada salahnya untuk ngobrol ringan yang berfaedah.

3. Push at your boundaries, test your limits

Kamu seorang programmer tapi suka nyanyi ? Tidak masalah. Go ahead. Kalau bisa, buat akun YouTube sebagai wadahmu menyalurkan minat. Enjoy your time.

Menjadi T-Shaped memang sulit. Kita dituntut untuk senantiasa belajar banyak hal. Tapi sekali lagi, tidak ada salahnya mencoba menjadi versi terbaik diri kita selagi kita bisa. Bukankah hal yang bagus jika kita tidak mengkotakkan diri pada satu hal dan lebih membuka diri ?

Bagikan:

Leave a Comment